- Back to Home »
- CInta , Tulisan »
- Cerita Sedih
Posted by :
anonim
Sunday, October 27, 2013
Ketika menikah aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal
sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa, aku takp ernah benar-benar
menjalani tugasku sebagi seorang istri. Aku slalu bergantung padanya karena aku
menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku
telah menyerahkan hidupuku padanya, sehingga tugasnyalah membuataku bahagia
dengan menuruti semua keinginanku.
Dirumah-kami aku lah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika
ada sedikit saja masalah aku swlalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya
yang basah yang diletakn ditempat tidur. Aku sebel melihat ia meletakan sendok
sisah mengaduk susu diatas meja dan meninggalkan bekas lengket. Aku benci
ketika ia memakai komputerku meski hanya untuk menyelesaikan pekerjaanya. Aku marah
kalau ia menggantung bajunya di kapstok bajuku. Aku juga marah kalau iya memkai
pasta gigi tanpa memncetnya dangan rapi. Aku marah kalau ia menghubungi-ku
berkali-kali ketika aku bersenag-senang dengan temanku.
Tadinya aku memlih untak tdk punya anak. Meskipun tdak bekerja tapi aku tak
mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung, dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi,
rupanya ia menyembunyikan keinginanya begitu dalam. Sampai suatu hari aku lupa
minum pil KB. Dan meskipn ia tau ia membiarkanya.
Akupun hamil. Dan baru menyadari setalah lebih dari empat bulan. Dokterpun
menolak untuk mengugurkanya. Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarah
semkin brtambah setlah aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami
kelahiran yang sulit. Aku memaksanya untuk melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi.
Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan
meninggalknya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak berasa berulang thun yang ke-8. Seperti
pagi-pagi sebelumnya aku bngun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah
menungguku di meja makan. Seperti bisaa ialah yang menyediakan sarpan pagi dan
mengantar anak-anak kesekolah. Hari itu ia mengingatakan bahwa hari itu ada
peringatan ulang tahun Ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa
mempedulikan kata-katanya yang mengingatakan peristiwa tahun seblumnya. Ya,
saat itu aku memilih ke mall dan tidak hadir diacara Ibu. Ya, karena merasa terjebak
edangan perkawinanku, aku jga membnci kedua orang tuaku. Sebelum ke kantor bisaanya
suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi, hari itu ia juga
memelukku sehingga anak-anak menggodainya dengan rIbut. Aku berusaha mengelak
dan melepaskan pelukannya, meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak.
Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk
pergi.
Ketika mereka pergi akupun memutuskan untuk kesalon. Menghabiskan waktu
kesalon adalah hobiku. Aku tiba disalon langgananku beberapa jam kmudian. Disalon
aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami
mengobrol dengan asyik, termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya
aku harus membayar tagihan salon. Namun betapa terkejutnya aku ketika menyadri
bahwa dompetaku tertinggal dirumah. Meskipun merogoh tasku hingga bgian trdlam
aku tak menmukannya didalam tas, sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi
hinggah dompetaku tak bisa ku temukan. Aku menelpon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang
jajan dan aku tak punya uang kecil. Maka kuambil dari dompet kamu, aku lupa
menaruhnya kembali ketasmu. Kalau tidak salah aku letakan diatas meja kerjaku” Begitu ia menjelsakan dang lembut.
Dengan marah aku mengomelinya dengan kasar kututep telepon tnpa
menungguhnya selesai bicara. Tak lama kemudian handphonku kemali berbunyi, dan meski masih kesal akupun
mengangkatnya dengan setengah membentak
“Apa lagi?”
“Sayang aku pulang sekarang aku akan ambil
dompet dan mengantarnya padamu, syang sekarang dimana?”
Begitu tanya suamiku cepat, Khawatir aku
menutup telpon kembali.
Aku menyebut nama salonku dan tanpa menungguh jawabnya lagi aku kembali
menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan suamiku akan datang
membayarkan tagihanku. Si pemilik salon yang sahabataku sebenarnya sudah memperbolehkan
aku pergi, dan mengatakan aku bisa membayarkannya nanti kalau aku kembali lagi.
Tapi rasa malu karena musuhku ikut mendengarku ketinggalan dompet membuataku
gengsi untuk berhutang dahulu. Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap
untuk suamiku segera sampai.
Menit berlalu menjadi jam. Aku semakin tidak sabar sehingga mulai
menghubngi handphone suamiku. Tak ada
jawaban meskin sudah berkali-kali kutelepon. Padahal bisaanya dua-kali berdering
teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah. Teleponku
diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi
keluar, terdengar suara asing menjawab. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara
laki-laki asing itu memperkenalkan diri.
“slamat siang bu, apakah Ibu istri dari
bapak Armandi?”
Kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi. Ia
memberi tahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saati ini sedang dibawah
kerumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima
kasih. Ketika telepon ditutup aku berjongkok dengan bingung, tnganku
menggenggam erat handphone yang
kupegang. Dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya
“ada apa?”
Hingga wajhku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bgaimana akhirnya aku sampai dirumah sakit, entah bagaiman juga
sluruh keluarga hadir disana menyusulku. Aku yang hnya diam serIbu bahasa
menungguh suamiku di depan pintu ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan
apa, karena selama ini dialah yang melakukan seglahnya untukku. Ketika akhirnya
semua menunggu beberapajam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar, seorang
dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada.
Suamiku telah tiada, ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri. Serangan
stroklah yang telah menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu
aku malah sIbuk menguatakan orang tuaku dan orang tuanya yang shock. Sama
sekali tak ada air mata setetespun yang keluar di air mataku. Aku sIbuk
menenangkan Ayah Ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan
erat, tetapi kesedhian mereka sama sekali tak mampu membuataku menangis.
Ketika jenazah di bawah kerumah dan aku duduk dihadapanya, aku tak mampu
menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang
nampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya, kupandangi dengan seksama. Saat
itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan kepadaku selama sepuluh
tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yangg telah dingin. Dan
kusadari inilah kali pertama aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum
hangat. Air mata merebah dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap
berusaha mengusap agar air mata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya. Aku
ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis suamiku tak berakhir
begitu saja. Tapi bukanya berhenti, air mataku semakin deras membanjiri kedua
pipiku. Peringatan dari imam masijid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu
mebuataku berhenti menangis, aku berusaha menahan diri , tetapi dadaku sesak. Mengingat
apa yang kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tidak pernah memperhatikan kesehatnya, aku hampir tak
pernah mengatur makanya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan
vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah
melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatakanku makan teratur, bahkan terkadang
menyuapi kalau aku sedang malas makan.
Aku tak pernah tau apa yang ia makan. Karena aku tak pernah brtanya. Bahkan
aku tak tau apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tau
bahwa suamiku adalah penggemar mie
instant dan kopi kental, dadaku sesak mendengarnya, karena aku tau ia
mungkin terpaksa makan mie instant karena
aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memsak untuk anak-anak dan
diriku sndiri. Aku tak peduli ia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia
bisa makan masakanku hanya jika tersisah. Ia pun pulang larut malam setiap
hari karena kantor cukup jauh dari
rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaanya untuk pindah lebih dekat ke
kantornya, karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman dimulai. Aku tak mampu menahan dir ilagi, aku pingsan ketika
melihat tubuhnya hilang bersama tumpukan tanah yang menimbun, aku tak tahu
apapun, sampai terbangun di temapt tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa
sesal memenuhi rongah dadaku. Keluarga besarku membujuku dengan sia-sia karena
mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu trluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang ku jalani setelah kepergianya, bukanlah kebebasan seperti yang
kuingnkn tetapi aku malh terjebak dalam keinginan untuk bersamanya.
Di hari-hari awal kepergianya, aku duduk termangu memandangi piring kosong.
Ayah Ibu dan Ibu mertuaku membujuku makan. Tetapi aku ingat hanyalah saat
suamiku membujukku makan kalau aku sedang ngambek dulu. Ketika aku lupa
membawah handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti bisaa. Dan
ketika malah Ibuku yang datang, aku berjongkok menangis didalam kamar mandi
berharap dia yang datang. Kebisaanku yang menolponi setiap kali aku tdk bisa melakukan
sesuatu dirumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab telponku. Setiap
malam aku menungguhnya dikamar tidur. Dan berharap esok pagi aku terbangun
dengan sosoknya disebalahku.
Aku begitu kesal kalau aku tidur mendengar seuara dengkuranya, tapi sekarang
aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Aku kesal karena
ia sering berantakan dikamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami
terasa kosong dan hampa. Aku begitu kesal kalau dia melakukan pekerjaan dan
meninggalkan laptopku tanpa melog out,
sekarang aku memandangi komputer mengusap tut-tutnya berharap bekas jarinya
masih tertinggal disana. Dulu, aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas
piring dimeja, sekarang bekas yang tersisah di sarapan pagi terakhirnya pun
tidak mau kuhapus. Remot TV yang bisaa disembuyikannya, sekarang dengan mudah
dapat kutemukan, meski aku berharap bisa mengganti kehilanganya dengan
kehilangan remot. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari, ia
mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya. Aku juga marah pada diriku
sndiri. Aku marah karena semua kelihaatan normal walu ia sudah tidak ada, Aku
marah karena baju-baju yang masih disana meninggalkan baunya yang membuataku
rindu, aku marah karena tidak bisa menghentikan penyesalanku, aku marah karena tak
ada lagi yang membujukku agar tenang, tak adalagi yang mengingataknku sholat
meskipun kini kulakukn dang ikhlas, aku shalat karena aku ingin minta maaf,
meminta maaf kepada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugrahkan padaku,
kuminta ampun berkali-kali karena telah menjadi istri yang tidak baik bagi
suamiku.
Shalat lah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah
padaku ditunjukanya dengan begitu banyaknya perhatian dari keluarga dan anak-anak.
Teman-temanku yang slama ini kubela-bela hampir tak pernah menunjukan batang
hidungnya setlah kepergian suamiku.
Empat puluh hari stelah kematianya, Keluarga mengingatakanku tuk bangkit
dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguhku dan harus kuhidupi. Kembali
rasa bingung merasuki-ku. Sleama ini aku tau beres dan tak pernh bekerja, semua
dilakukan suamiku. Berapa besar pndapatnya selama ini aku tak prnh peduli, yang
kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekningku untuk kprluan
pribadi. dan setiap bulan hampir setiap hari tak pernah tersisah. Dari kantor tempat ia bekerja, aku memperoleh
gaji terkahir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya, aku terdiam tak
menyangka. Ternyata seluruh gajinya ditransfer kerekningku slama ini. Padahal
aku tak pernah sedikitpun menggunakan untak keperluan rumah tanggah. Nth
darimna ia memper oleh uang lain untuk memenuhi kebutuhuan rumah tanngah, karena
aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu. Yang aku tauh saat ini, aku harus
bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan
kompesansi bonusnya tidak cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja
dimana?, aku hampir tak pernah punya pngalaman sama sekali. Semuanya selalu
diatur olehnya.
Kebingunganku
terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama sorang notaris. Ia
membawah banyak sekalih dokumen, lalu notaris memberikan sebuah surat “Surat
pernyataan suami” bahwa ia mewariskan seluruh kekayaan kepadaku dan anak-anak.
Ia menyertai Ibunya dalamsurat tersebut. Tapi yang mmbuat aku tak mampu berkata
apapun adalah isi suratnya untukku.
“Istriku tersayang. Maaf karena harus meninggalknmu terlebih dahulu sayang, maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalahnya sendiri, maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah membriku waktu terlalu singkat karena menicntaimu dan anak-anak adalh hal terbai yang pernah aku lakukan. Seandainya aku bisa, aku ingin mendamping sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilnagn kasih sayangku begitu saja. selma ini aku telah menabung sedikit demi sdikit untuk khidupan kalian nanti, aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak bnyk yang bisa aku berikan, ttpi aku brharp sayang bisa memnfaataknya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukn yang terbaik untuk mreka ya sayang. Jangan menangis, jangan menagis sayangku yang manja. Lakukn bnyk hal untuk membuat hidupmu yang terbuang selama ini, aku memberiank kbebasan kepadamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tek sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau selmaini aku menyusakan dan smoga tuhan memberikan jodoh yang lebih baik dariku. Dan untuk Farah putrie tercintaku, maafkan karena Ayah tidak bisa mendampingimu jadilah istri yang baik seprit Ibumu, dan Farhan kesatria pelindungku, jagalah Ibu dan Farah jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada Ayah akan ada disana melihatnya. OK Buddy 8P “
“Istriku tersayang. Maaf karena harus meninggalknmu terlebih dahulu sayang, maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalahnya sendiri, maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah membriku waktu terlalu singkat karena menicntaimu dan anak-anak adalh hal terbai yang pernah aku lakukan. Seandainya aku bisa, aku ingin mendamping sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilnagn kasih sayangku begitu saja. selma ini aku telah menabung sedikit demi sdikit untuk khidupan kalian nanti, aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak bnyk yang bisa aku berikan, ttpi aku brharp sayang bisa memnfaataknya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukn yang terbaik untuk mreka ya sayang. Jangan menangis, jangan menagis sayangku yang manja. Lakukn bnyk hal untuk membuat hidupmu yang terbuang selama ini, aku memberiank kbebasan kepadamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tek sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau selmaini aku menyusakan dan smoga tuhan memberikan jodoh yang lebih baik dariku. Dan untuk Farah putrie tercintaku, maafkan karena Ayah tidak bisa mendampingimu jadilah istri yang baik seprit Ibumu, dan Farhan kesatria pelindungku, jagalah Ibu dan Farah jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada Ayah akan ada disana melihatnya. OK Buddy 8P “
Aku terisak membaca surat itu ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi
lidah menjulurkan suamiku kalau ia mengirimkan note. Notaris memberi tahuku bahawaselama
ini suamiku selama ini memiliki beberapa asuransi dan beberapa deposito dari
warisan Ayah kandungnya. Suamiku membuat beberpa usaha dari deposito. Dan usaha
tersebut cukup berhasil, meskipun dimanage
oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu, mengetahui
betapa besarnya cintanya pada kami. Shingga ktika ajal menjemputnya ia tetap
membanjiri kami dangan cinta.
Aku tak pernah berfikir untuk menikah lagi, banyaknya lelaki yang hadir tak
mampu menghapus sosoknya yang begitu hidup dihatiku. Hari demi hari hanya
kuabdikan untuk anakku. Ketika orang tuaku
dan mertuaku pergi satu per satu meninggalkanku selama-lamanya, tak satupun
meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi. Kini kedua putra
putriku berusai 23tahun. 2hari lagi putriku menikahi pemuda dari tanah seberang.
Putri kami bertanya
“Ibu.
Aku harus bagaimana? nanti setelah menjadi istri, soalnya gk bisa masak,
gk bisa nyuci, bagaimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata
“Farah sayang, cintailah suamimu,
cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatakan
seglahnya. Karena cinta, kau akan belajar mnyenangkan hatinya, akan belajar menerima
kekuranganya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan kalian akan menyelasaikanya
diatas nama cinta”
Dan ia kembali menanyakan kpadaku
“Seperti cinta Ibu untuk Ayah? Cinta
itukah yang membuat Ibu tetap setia kepada Ayah sampai sekarang?”
Lalu aku menggeleng
“Bukan sayangku, cintailah suamimu seperti
Ayah mencintai Ibumu, seperti Ayah mencintai kaian berdua. Ibu setia kpda Ayah karena
cinta Ayah yang bgitu besar kpdIbu dan kalian berdua”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukan cintaku pda suamiku.
Aku habisakn 10thun tuk membencinya tetapi mengahbisakan hampir sepanjang sisah
hidupku tuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak
pernah bisa bebas dari cintanya yang bgitu tulus.
